Selasa, 12 Mei 2009

Mengatasi Grogi saat Bicara didepan Publik

Seorang pecinta tulisan saya di sebuah rubrik koran lokal melontarkanpertanyaan bagaimana mengatasi grogi pada saat bicara di depan umum(publik)? Meski ia sudah mempersiapkannya sebaik mungkin tetap saja grogi.Masalah grogi adalah masalah yang dialami oleh siapa saja yang sedangbelajar bicara di depan publik (selanjutnya saya sebut bicara). Keterampilanini adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datangseketika. Artinya, bila ingin mengusainya diperlukan banyak berlatih danberlatih.Untuk mengupas masalah grogi dan cara mengatasinya saya akan menggunakandua pendekatan. Pendekatan pertama saya menggunakan pendekatan neurologisyakni bagaimana pikiran kita mencerna "keberadaan publik" (audience); danpendekatan kedua adalah pendekatan praktis yakni bagaimana kiat-kiat praktismenghadapi grogi. Setidaknya, dua pendekatan itu sudah saya praktikkan dalam hidup saya. Sayadulu yang pemalu luar biasa (bayangkan dulu saya tidak berani bilang "Kiri"pada saat naik bus/angkutan umum. Takut/malu kalau banyak orang yang nengokke arah saya). Kini saya sudah terbiasa bicara di depan publik, bahkanmenjadi pembicara publik dan motivator yang dibayar. Baik, selanjutnya saya jelaskan pendekatan pertama, kenapa secara neurologis(syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi ataubahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan pulik itu sangat tergantungbagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar,yaitu --dalam hal ini-- audience (publik).Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari responpikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatuyang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuahketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan,maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yangmenyenangkan. Lebih kongkritnya begini. Kalau Anda membayangkan jeruk nipis (sesuatu yangberada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannyarasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluarsebagai respon terhadapnya. Sebaliknya, kalau Anda membayang buah anggur yang segar, baru keluar darikulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan.Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Andamenanggapinya dengan negatif maka pikiran bekerja dengan cara negatif,milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Andameresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuattenaga untuk memperkuat respon positif Anda.Audience (publik) bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau buah angguryang manis menyegarkan. Audience adalah sesutau yang netral sifatnya."Manis" dan "kecut"-nya, arau "menakutkan" (yang membuat Anda grogi) atau"menyenangkan" sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya. Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang "menakutkan" syaraf otak segerabekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif. Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan negatif untukmeyakinkan bahwa audience itu "menakutkan". Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa: 1) audienceterlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurangpede; 2) audience akan meneriaki "huuuuuuu..?" bila saya salah; 3) audienceakan mempergunjingkan saya bila saya salah;4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik; 5) saya akanmalu bila saya salah dalam bicara nanti dan; 6) masih banyak alasan negatifyang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi.Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dansalah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibukmemikirkan audience yang "menakutkan" ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan. Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif. Pikran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkanAnda tampil lebih percaya diri. Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai: 1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untukbicara; 2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru;3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami olehsetiap orang; 4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara;5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahanseperti Anda; 6) dalam sejarah belum ada audience yang "mencemooh" pembicarabila dalam menyampaikannya secara santun dan; 7) ini adalah kesempatanterbaik untuk berlatih bicara. Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara.Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara. Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif sepertitersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi. Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selamabicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap "menakutkan". Menakutkanatau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita "menafsirkannya".Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akanlancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi. Semua yang saya jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan neurologis.Selanjutnya saya menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi grogi.Sebelum saya memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlusaya ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara(pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadiahli bicara. Semuanya diawali dari, malu, gemetar dengan keringat dingin,grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman,seorang yang sudah pengalaman pun kadang- kadang masih dihinggapi rasakurang pede dan grogi. Jadi kalau menuggu sampai tidak ada rasa grogi,dibutuhkan waktu dan jam terbang yang lama. Butuh proses.Cara-cara berikut ini adalah cara praktis yang saya gunakan bagaimanamengatasi grogi.Pertama, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanianmeningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil.Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasapede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh pintar bicarayang menjadi idola Anda. Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Andayang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukanAnda.Kedua, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil didepan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah.Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman.Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara.Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda beranimencobanya, berarti nyali Anda hebat. Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi.Pokoknya Anda harus berani malu.Keitga, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara padakelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar,pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yangseperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitiaseminar, dan acara-acara pengajian. Lama- ama saya biasa. Ingat Anda bisakarena biasa. Keempat, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknyaditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu,biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada duacara dalam menulis, menulis lengkap kenudian tinggal membaca atau tulispokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Andabicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek.Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saatbicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.Kelima, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja,cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangatmembantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untukmembuat sebuah "bangunan logika", sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Andaterbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu padasaat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.Keenam, perbanyak membaca. Orang bicara atau menulis, tidak lepas darikegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yangdapat dijadikan acuan pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicaraterjadi karena tidak saja grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan(informasi) yang dimilikinya.Ketujuh, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat. Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapijadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasahketerampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadipendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.Kedelapan, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicaramerupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiapsaat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puasdengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yanglupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampillebih baik pada kesempatan mendatang. Kesembilan, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses tanpa latihanterus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogibila hanya tampil (berlatih) satu atau dua kali saja. Bicaralah saat adakesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperolehdengan "berbicara" bukan dengan cara "belajar tentang". Satu ons praktikbicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara. Selamat mencoba.dari Waidi

2 komentar:

  1. sippp.... solusi yang sangat baik buat acuan awal

    trima kasih atas solusi/petunjukx ya.....
    moga sukses....!!!

    BalasHapus
  2. makasih infonya,saya akan coba, dan doakan ya

    BalasHapus